Memasuki tahun 2026, sejumlah mata uang masih terjebak dalam zona nilai nominal yang sangat rendah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD). Meskipun beberapa negara menunjukkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang positif, beban sejarah inflasi dan ketergantungan pada komoditas tertentu membuat nilai nominal mata uang beberapa negara tetap berada di jajaran terendah secara global.

Berikut adalah urutan mata uang yang saat ini memiliki nilai tukar paling rendah terhadap satu Dolar AS :

  1. Iran (IRR) – Rp1,100,000 / 1 USD
  2. Lebanon (LBP) – Rp89,000 / 1 USD
  3. Vietnam (VND) – Rp26,000 / 1 USD
  4. Sierra Leone (SLE) – Rp22,000 / 1 USD
  5. Laos (LAK) – Rp21,000 / 1 USD
  6. Indonesia (IDR) Rp16,000 / 1 USD
  7. Uzbekistan (UZS) Rp12,000 / 1 USD
  8. Guinea (GNF) Rp8,000 / 1 USD
  9. Paraguay (PYG) Rp6,000 / 1 USD
  10. Uganda (UGX) Rp3,000 / 1 USD

Meski masuk 10 besar, nilai tukar rupiah sekitar Rp16 ribu per US$ masih jauh lebih stabil dibanding Iran yang menembus Rp1,1 juta per US$ akibat inflasi dan sanksi ekonomi. Menariknya, perbedaan nominal kurs bisa mencapai 70×, namun tidak otomatis mencerminkan daya beli atau kekuatan ekonomi suatu negara. Menurut data Morningstar, hal ini menegaskan bahwa ukuran “mata uang terlemah” lebih soal denominasi dan stabilitas, bukan sekadar angka tukar terhadap dolar.

Sumber: Morningstar/ via goodstats.id

<< Kembali